Diberdayakan oleh Blogger.

About This Blog

" عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: " إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى. فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله، ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه "

قال عبدُ الرَّحمانِ بنُ مهدي : مَنْ أَرادَ أنْ يصنِّفَ كتاباً ، فليبدأ بحديثِ (الأعمال بالنيات )

Lambaian Ikhlasku

MyEm0.Com

Siapa Para Ulama ?

Sabtu, 08 Agustus 2009



Ralat: suka untuk ana bawakan artikel ini untuk pembaca kerana kekangan masa yang ana hadapi, membuatkan ana x dpt buat artikel baru,,,
Penulis : Ustadz Qomar Suaidi.
Mungkin muncul pertanyaan, siapakah ulama itu? Hingga kini banyak perbezaan dalam menilai siapa ulama. Sehingga perlu dijelaskan siapa hakikat para ulama itu. Untuk itu kita akan merujuk kepada penjelasan para ulama Salafus Shaleh dan orang-orang yang menyelusuri jalan mereka. Perkataan ulama itu sendiri merupakan bentuk jamak dari kata ‘alim, yang artinya orang berilmu.
Untuk mengetahui siapa ulama, kita perlu mengetahui apa yang dimaksud dengan ilmu dalam istilah syariat, kerana kata ilmu dalam bahasa yang berlaku sudah sangat meluas. Adapun makna ilmu dalam syariat lebih khusus iaitu mengetahui kandungan Al Qur’anul Karim, Sunnah Nabawiyah dan ucapan para shahabat dalam menafsiri keduanya dengan mengamalkannya dan menimbulkan khasyah (takut) kepada Allah.
Imam Syafi’i berkata: “Seluruh ilmu selain Al Qur’an adalah hal yang menyibukkan kecuali hadith dan fiqh dan memahami agama. Ilmu adalah yang terdapat padanya haddatsana (telah mengkabarkan kepada kami – yakni ilmu hadits) dan selain dari padanya adalah bisikan syaitan.”
Ibnu Qoyyim menyatakan: “Ilmu adalah berkata Allah, berkata Rasul-Nya, berkata para sahabat yang tidak menyelisihi akal sihat padanya.” (Al Haqidatusy-Syar’iyah: 119-120)
Dari penjelasan makna ilmu dalam syariat, maka orang alim atau ulama adalah orang yang menguasai ilmu tersebut serta mengamalkannya dan menimbulkan rasa takut kepada Allah Subhanahuwata’ala . Oleh kerana dahulu sebahagian ulama menyatakan ulama adalah orang yang mengetahui Allah Subhanahuwata’ala dan mengetahui perintah-Nya. Ia adalah orang yang takut kepada Allah Subhanahuwata’ala dan mengetahui batasan-batasan syariat-Nya serta kewajiban-kewajiban-Nya. Rabi’ bin Anas menyatakan “Barangsiapa yang tidak takut kepada Allah bukanlah seorang ulama.” Allah berfirman: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah hanyalah ulama .” (Fathir: 29)
Kesimpulannya, orang-orang sepatutnya menjadi rujukan dalam masalah ini adalah yang berilmu tentang kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya serta ucapan para shahabat. Dialah yang berhak berijtihad dalam hal-hal yang baru. (Ibnu Qoyyim, I’lam Muwaqqi’in 4/21, Madarikun Nadhar 155)
Ibnu Majisyun, salah seorang murid Imam Malik mengatakan: “Dahulu (para ulama) menyatakan, ‘Tidaklah seorang itu menjadi Imam dalam hal fiqh sehingga menjadi imam dalam hal Al Qur’an dan Hadits dan tidak menjadi imam dalam hal hadits sehingga menjadi imam dalam hal fiqh.” (Jami’ Bayanil ‘Ilm: 2/818)
Imam Syafi’i menyatakan: “Jika datang sebuah perkara yang musykil (rumit) jangan mengajak musyawarah kecuali orang yang terpercaya dan berilmu tentang al Kitab dan Sunnah, ucapan para shahabat, pendapat para ulama’, qiyas dan bahasa Arab. (Jami’ Bayanil ‘Ilm: 2/818)
Merekalah ulama yang hakiki, bukan sekedar pemikir harakah, mubaligh penceramah, aktivis gerakan dakwah, ahli membaca kitabullah, ahli taqlid dalam mazhab fiqh, dan ulama shu’ (jahat), atau ahlu bid’ah. Tapi ulama hakiki yang istiqamah di atas Sunnah. Wallahu a’lam
http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=4

0 ulasan:

Posting Komentar

Al-Quran

Listen to Quran

  © Blogger template The Professional Template II by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP